Setiap perangkat yang terhubung ke Internet berkomunikasi, menemukan lokasi, dan berinteraksi dengan perangkat lain melalui alamat IP. Alamat ini adalah rangkaian angka unik yang ditetapkan untuk setiap perangkat dalam jaringan, mirip seperti alamat rumah yang membedakan satu rumah dari rumah lain di jalan yang sama.
Meskipun jumlah alamat IP di jaringan rumah IPv4 biasanya tidak terlalu banyak (misalnya, 192.168.0.0/24 hanya memberikan 256 alamat), di jaringan IPv6 jumlahnya bisa mencapai 18 kuintilion alamat.
Namun, tidak semua alamat tersebut digunakan oleh perangkat di rumah Anda, berkat subnetting dan subnet mask. Pertanyaan yang tersisa adalah: Apa itu subnet? Apa itu subnet mask? Bagaimana cara kerja subnetting IPv4 dan IPv6? Dan bagaimana cara menggunakan subnet cheat sheet untuk mengonfigurasi jaringan Anda? Semua pertanyaan itu akan dijawab dalam artikel ini.
Saya telah membuat cheat sheet yang mencakup subnet mask, panjang prefix CIDR IPv6, serta cara mengatur jaringan IPv4 dan IPv6 Anda. Pastikan Anda memeriksanya di bagian akhir artikel ini. Di sana juga ada informasi berguna tentang alamat IP dan jaringan.
Apa Itu Subnet Mask?
Alamat IPv4 terdiri dari 32 bit yang dibagi menjadi segmen 8-bit, yang biasa disebut "oktet". Oktet-oktet ini biasanya dialokasikan ke network ID atau host ID. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang IPv4 dan IPv6, baca artikel blog kami yang berjudul "IPv4 vs. IPv6: Bagaimana IPv6 Dirancang untuk Menggantikan IPv4.”
Network ID dan Host ID
Network ID atau alamat jaringan menentukan jaringan mana yang dimiliki oleh suatu alamat IP. Ketika sebuah paket data dikirimkan melalui internet atau jaringan lokal, router menggunakan network ID untuk menentukan apakah tujuan paket tersebut berada di jaringan yang sama atau perlu diteruskan ke jaringan lain. Network ID memberi tahu router ke jaringan mana paket harus diarahkan.
Selain itu, network ID juga membantu membedakan berbagai subnet dalam organisasi atau lingkungan yang lebih besar. Dengan network ID yang berbeda untuk setiap subnet, perangkat dapat berkomunikasi di dalam subnet lokalnya atau menjangkau subnet lain melalui router. Semua perangkat dalam jaringan yang sama tentu memiliki network ID yang sama.
Lalu, ada bagian host ID dari sebuah alamat IP. Bagian ini yang mendefinisikan perangkat unik (host) di dalam jaringan tersebut. Host ID membedakan satu perangkat dari perangkat lain dalam jaringan agar traffic dapat diarahkan dengan benar ke dan dari perangkat yang tepat.
Subnet Mask
Sekarang kita bisa membahas subnet mask. Subnet mask adalah angka 32-bit (mirip dengan alamat IP) yang menentukan oktet mana yang dialokasikan ke network ID dan oktet mana yang dialokasikan ke host ID.
Mask Subnet IPv4
Misalkan Anda memiliki alamat IPv4 seperti 192.168.1.10 dan subnet mask seperti 255.255.255.0. Angka yang berulang dalam subnet mask menunjukkan bahwa tiga oktet pertama, atau 24 bit pertama dari alamat IP, yaitu 192.168.1.0, mewakili bagian jaringan (network ID).
Hal ini karena, seperti yang disebutkan sebelumnya, bagian jaringan dari semua perangkat dalam jaringan yang sama memiliki network ID yang sama sehingga nilainya konstan di seluruh perangkat. Adapun bagian host ID, oktet terakhir menunjukkan jumlah alamat IP yang tersedia untuk ditetapkan ke sebuah perangkat.
Mungkin Anda bertanya, bagaimana cara mengetahui berapa banyak alamat IP yang tersedia untuk perangkat? Ketika subnet mask menunjukkan bahwa sebuah alamat IP memiliki delapan bit yang dicadangkan untuk host ID, artinya ada delapan variabel yang masing-masing bisa diisi dengan 0 atau 1.
Ini berarti ada 2^8 atau 256 alamat IP yang dapat ditetapkan ke perangkat dalam alamat IPv4 ini. Namun perlu diingat, dua dari alamat tersebut selalu dicadangkan untuk network address (192.168.1.0) dan broadcast address (192.168.1.255).
Masker Subnet IPv6
Terlepas dari subnet mask di IPv4, mari kita bahas subnet mask di IPv6. Berbeda dengan IPv4 yang menggunakan notasi desimal bertitik (255.255.255.0) untuk menunjukkan bagian mana dari alamat yang dialokasikan ke network ID dan mana ke host ID, IPv6 menggunakan panjang prefix yang merupakan bagian dari sistem alokasi dan notasi IP yang lebih baru.
Sistem ini disebut Classless Inter-Domain Routing. Berbeda dari sistem alokasi IP berbasis kelas sebelumnya, sistem ini menggunakan Variable-Length Subnet Masking (VLSM). Anda bisa mempelajari lebih lanjut tentang CIDR, cara kerjanya, dan perbedaannya dengan sistem sebelumnya di sini.
Untuk menunjukkan bagian mana yang digunakan sebagai network ID dan host ID, notasi CIDR biasanya menambahkan tanda / di akhir alamat IPv6 diikuti oleh sebuah angka, yang menunjukkan berapa banyak bit yang dialokasikan untuk bagian jaringan. Notasi CIDR ini disebut prefix length.
Perlu diperhatikan bahwa setiap angka dalam alamat IPv4 mewakili 8 bit atau satu oktet, sedangkan dalam IPv6, setiap kombinasi angka dan huruf di antara dua titik dua mewakili 16 bit. Contohnya:
2001 (heksadesimal) → 0010000000000001 (biner)
Versi biner lengkap dari alamat IPv6 2001:0db8:85a3:0000:0000:8a2e:0370:7334 adalah:
0010000000000001 0000110110111000 1000010110100011 0000000000000000
0000000000000000 1000101000101110 0000001101110000 0111001100110100
Selain itu, untuk mempersingkat alamat IPv6, blok-blok nol (blok 16-bit yang seluruhnya nol dalam alamat IPv6) dapat diganti dengan tanda titik dua ganda ("::"). Jumlah blok nol 16-bit dapat dihitung dengan mengurangkan jumlah blok non-nol yang ditampilkan secara penuh dari total jumlah blok dalam alamat IPv6, yaitu delapan. Sebagai contoh:
2001:db8:1234::/64 → 2001:db8:1234 → 8 total blok – 3 blok non-nol = 5 blok nol
Jadi, alamat lengkapnya adalah 2001:0db8:1234:0000:0000:0000:0000:0000/64.
Dengan dasar-dasar tersebut, mari kita lihat contoh subnet mask IPv6:
Jika alamat IPv6 adalah sebagai berikut: 2001:db8:1234::/64
64 bit pertama digunakan untuk bagian jaringan: 2001:db8:1234
Sisa 64 bit (128-64=64) digunakan untuk bagian host: 0000.0000.0000.0000.
Subnet Cheat Sheet untuk IPv4 dan IPv6
Meski terdengar mirip, subnet mask dan subnetting adalah dua hal yang berbeda. Subnetting pada dasarnya memecah sejumlah besar alamat IPv4 atau IPv6 yang tersedia dalam suatu jaringan agar berbagai departemen atau perangkat lebih mudah dikelola dan keamanan meningkat.
Misalnya, di lingkungan perusahaan, departemen keuangan bisa memiliki subnet tersendiri sehingga akses tidak sah dari departemen lain dapat dicegah. Di rumah, membagi jaringan menjadi dua subnet, satu untuk perangkat pribadi dan satu untuk perangkat IoT (Internet of Things) seperti asisten rumah pintar atau Roomba, dapat meningkatkan keamanan dan performa jaringan. Pasalnya, perangkat IoT terus-menerus berkomunikasi dengan layanan cloud dan umumnya lebih rentan terhadap celah keamanan.
Sebelum tahun 1993, subnetting dilakukan melalui sistem kelas di mana sebuah jaringan hanya bisa memiliki 254, 65.534, atau lebih dari 16 juta IP untuk perangkat, dan tidak bisa dibagi menjadi jaringan yang lebih kecil seperti yang bisa dilakukan sekarang.
Namun, berkat perkembangan CIDR, kini Anda dapat membagi jaringan berukuran berapa pun menjadi sebanyak jaringan yang Anda inginkan. Mari kita bahas cara kerja subnetting pada IPv4 dan IPv6, serta cara menggunakan subnet cheat sheet kami untuk mengonfigurasi jaringan Anda.
Subnet Cheat Sheet IPv4
Misalkan Anda memiliki jaringan seperti 192.168.1.0/24 dengan 256 alamat IP untuk bagian host. Selain bisa mengetahui jumlah IP yang dialokasikan untuk bagian jaringan dan host melalui subnet mask (255.255.255.0), angka /24 di akhir IP juga menunjukkan bahwa 24 bit digunakan untuk bagian jaringan, sehingga tersisa 8 bit atau 256 (2^8=256) alamat untuk bagian host.
Jika kita ingin membagi jaringan ini menjadi dua subnet yang masing-masing berisi 128 alamat, kita meminjam satu bit dari bagian jaringan, yang menghasilkan konfigurasi dan perubahan berikut:
- Subnet mask baru: /25 atau 255.255.255.128
- Host per subnet: 128
- Subnet 1: 192.168.1.0/25 (126 alamat yang dapat digunakan, dari 192.168.1.1 hingga 192.168.1.126)
- Subnet 2: 192.168.1.128/25 (126 alamat yang dapat digunakan, dari 192.168.1.129 hingga 192.168.1.254)
Melalui proses CIDR ini, Anda dapat membagi jaringan sebanyak yang diinginkan, selama masih tersedia minimal dua alamat IP yang dapat digunakan (tidak termasuk dua IP yang dibutuhkan untuk alamat broadcast dan alamat jaringan). Jadi, untuk jaringan /24 dengan 254 IP yang dapat digunakan, Anda dapat membuat 64 subnet yang masing-masing berisi dua alamat IP; namun, jumlah host sekecil ini biasanya hanya digunakan untuk koneksi point-to-point.
Subnet Cheat Sheet IPv6
Subnetting IPv6 sangat penting mengingat ruang alamat IPv6 menawarkan 2^128 atau 340 undecillion (angka 34 diikuti 37 nol) alamat IP unik. Jaringan IPv6 pada umumnya dikonfigurasi dengan CIDR /64 yang mengalokasikan 64 bit untuk bagian jaringan dan 64 bit lainnya untuk bagian host, sehingga tersedia 2^64 atau 18 kuintiliun (angka 18 diikuti 18 nol) alamat unik.
Mengingat jumlah alamat IPv6 yang sangat besar, subnetting jaringan IPv6 tetap sangat berguna bahkan dengan CIDR /64 standar sekalipun. Administrator jaringan dapat mengelola perangkat dengan mengelompokkannya berdasarkan lokasi, departemen, atau fungsi, memantau lalu lintas jaringan, menerapkan kebijakan keamanan, dan mengonfigurasi router dengan jauh lebih mudah.
Meskipun subnet /64 adalah bentuk subnetting yang paling umum digunakan untuk IP IPv6 karena mendukung fitur seperti SLAAC atau Stateless Address Autoconfiguration (yang memungkinkan perangkat menghasilkan alamat IP secara otomatis berdasarkan jaringan yang terhubung tanpa memerlukan server DHCP), Anda tetap dapat membagi jaringan IPv6 menjadi berapa pun subnet yang diinginkan.
Misalkan Anda memiliki jaringan IPv6 /64 seperti 2001:db8:abcd:1000::/64. Jika kita meminjam 4 bit dari bagian jaringan, kita dapat membagi jaringan tersebut menjadi 16 subnet, yang menghasilkan perubahan berikut:
- Subnet asli: 2001:db8:abcd:1000::/64
- Subnet baru: /68
- Jumlah subnet: 2^(bit yang dipinjam dari jaringan) = 2^4 = 16 subnet
- Subnet pertama: 2001:db8:abcd:1000:0000::/68
- Subnet kedua: 2001:db8:abcd:1000:1000::/68
- Subnet ketiga: 2001:db8:abcd:1000:2000::/68
- … hingga 2001:db8:abcd:1000:f000::/68
- 2001:db8:abcd:1000: 64 bit pertama mendefinisikan global routing prefix.
- 0000 – f000: 4 bit berikutnya digunakan untuk subnetting.
- Bagian Host: 60 bit sisanya digunakan untuk alamat host. (Sisa "::" yang mewakili tiga blok 16-bit)
- Setiap subnet /68 memiliki 2^60 = 1,15 kuintiliun kemungkinan alamat host.
Pemikiran Akhir
Subnetting adalah bagian penting dari setiap jaringan, baik itu subnetting IPv4 maupun IPv6. Semoga artikel ini beserta cheat sheet subnetting yang saya sediakan dapat membantu kamu mengatur dan membagi subnet jaringanmu dengan lebih mudah.
Pertanyaan Umum
Apa itu subnet mask?
Pada IPv4, subnet mask adalah angka 32-bit (mirip dengan alamat IP) yang menentukan oktet mana yang ditetapkan sebagai network ID dan host ID. Pada IPv6, alih-alih menggunakan subnet mask seperti di IPv4 (misalnya, 255.255.255.0), IPv6 menggunakan notasi panjang prefix untuk menunjukkan berapa banyak bit alamat yang digunakan untuk bagian jaringan.
Bagaimana cara kerja subnetting IPv4 dan IPv6?
Melalui CIDR atau Classless Inter-Domain Routing, kita dapat membagi jaringan IPv4 atau IPv6 menjadi sebanyak subnet yang diinginkan dengan meminjam bit dari bagian jaringan. Namun, untuk IPv4, kamu harus memiliki setidaknya dua alamat IP yang dapat digunakan (tidak termasuk dua IP yang dibutuhkan untuk broadcast dan network address). Misalnya, jika kamu memiliki jaringan dengan 256 alamat IP (192.168.1.0/24) dan ingin membaginya menjadi dua subnet dengan masing-masing 128 IP, kamu meminjam satu bit dari bagian jaringan, sehingga menghasilkan dua subnet berikut: 192.168.1.0/25 & 192.168.1.128/25
Apakah ada subnetting cheat sheet untuk IPv4 dan IPv6?
Tentu! Menghitung jumlah alamat IP saat melakukan subnetting memang bisa cukup rumit, terutama untuk IPv6. Karena itu, saya telah menyusun subnet cheat sheet lengkap untuk mempermudah proses subnetting kamu. Ini juga mencakup cheatsheet IPv6 dan cheatsheet jaringan, jadi cukup komprehensif!